COVID – 19 : Berapa banyak yang ingin menjadi “baru”?

Seluruh dunia berguncang. Mengalami krisis yang disebabkan oleh virus corona. Ekonomi, Kesehatan, Sosial, semua terdampak. Beberapa pakar menyebut ini lebih parah dibanding krisis 98 dan 2008. Beberapa bisnis tumbang. UMKM lebih dulu. Perusahaan besar dengan ribuan karyawan tidak terkecuali. Virgin Atlantic, Deloitte, dan beberapa nama besar lainnya merumahkan ribuan karyawannya. Perusahaan startup seperti Airyroom juga memutuskan berhenti beroperasi di Indonesia, juga karena COVID-19.

Karyawan, Pengusaha, Pedagang Pengajar, Entertainer, Pemerintah, apapun.., semua terdampak. Yang masih agak beruntung, hanya dapat penangguhan THR / Gaji. Yang kurang beruntung di PHK atau ga bisa dapat penghasilan sama sekali. Semua pihak terguncang. Muncul perdebatan antara mendahulukan kesehatan atau ekonomi. Semua orang punya pandangannya masing-masing.

Semua mulai berfikir dan melakukan cara baru. Bagi bisnis untuk bisa tetap bertahan. Bagi Individu agar tetap bisa hidup. Cara-cara baru mulai dipaksakan, bukan sekedar disarankan. Berikut ini beberapa hal baru yang bisa kita lihat dalam 2 bulan terakhir ;

1. Work From Home (WFH)

Saya masih ingat betul diawal tahun ini (atau akhir tahun lalu, lupa) muncul berita di portal online tentang rencana PNS bisa bekerja dari rumah. Semua orang tertawa. Menganggap itu mustahil. Hanya perusahaan STARTUP tech yang mungkin bisa melakukan itu. Tapi 2 bulan ini, semua pekerja melakukan WFH. Pegawai swasta, Kementrian, BUMN, semua kerja dari rumah. Suka tidak suka. Bisa tidak bisa. Mau bilang dirumah banyak gangguan, takut paket data habis, lebih enak ketemu langsung, semua harus kerja dari rumah. Mau orang-orang kolonial yang tidak akrab dengan teknologi, ataupun anak milenial yang memang sukanya ketemu sambil nongkrong, semua harus kerja secara virtual.

Cukup banyak pemimpin perusahaan yang dahulu berkata bahwa setiap orang harus diawasi kerjanya. Tidak bisa dibebaskan. Tidak maksimal. Tapi 2 bulan ini, mau tidak mau manajemen perusahaan mencari cara mengontrol tim nya yang bukan lagi berdasarkan kehadiran fisik semata, namun berdasarkan output kinerja.

Pertanyaannya, setelah semua ini berakhir dan kembali normal, ketika vaksin sudah ditemukan, dites, dan disebarkan ke seluruh dunia, kita akan balik lagi ke cara yang lama atau meneruskan WFH ini ?

2. Semua serba virtual

Aplikasi ZOOM meledak. Walaupun diikuti dengan isu keamanan. Semua meeting dilakukan secara virtual. Event – event yang biasanya tatap muka, mulai lewat IG live, Live Youtube, atau aplikasi lainnya. Walaupun kadang suka minta mengulang perkataan karena signal kurang bagus, mau tidak mau, harus dipaksakan. Zumba, Senam, Dance, Nge Band, dilakukan dirumah masing – masing melalui layar yang terbagi ke dalam kotak setiap personel / peserta. Konyol ? mungkin. Aneh? mungkin. Tapi, mau tidak mau.

Pertanyaannya, setelah semua ini berakhir dan kembali normal, ketika vaksin sudah ditemukan, dites, dan disebarkan ke seluruh dunia, apa kita akan balik lagi ke cara yang lama, ketemu tatap muka untuk meeting, yang mungkin menghabiskan 2 jam perjalanan pulang pergi, 30 menit menunggu semua peserta rapat ngumpul, dan beberapa menit untuk basa basi setelah meeting, atau meneruskan meeting virtual ini ?

3. Semua orang jualan

Coba perhatikan status whatsapp di contact kalian. Semua berisi jualan. Mulai dari frozen food, kopi seliter, kurma, kue, apapun. Langkah yang terbaik yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup. Bahkan, mendengar cerita dari beberapa teman, pendapatan dari jualan online disituasi pandemi ini sangat besar. Mungkin lebih besar dari gaji / omset nya yang hilang karena pandemi. Yang sebelumnya jual baju, sekarang jual masker. Yang dulu usaha restoran, sekarang jual frozen food. Bahasa kerennya “Pivot”.

Pertanyaannya, setelah semua ini berakhir dan kembali normal, ketika vaksin sudah ditemukan, dites, dan disebarkan ke seluruh dunia, kita akan balik lagi ke cara yang lama atau meneruskan yang sudah kita jual dan ternyata berhasil ini ?

Berapa banyak penjual era pandemic yang hanya open PO ketika dia lagi sempat saja? Ketika ada orderan, tapi lagi malas membuat, orderan tersebut ditolak. Kenapa sudah tau berhasil, tidak diseriusin, dibuat kontinu. Bukankah ini momen yang pas bagi yang memang ingin berbisnis?

Work Life Balance vs Work Life Integration dan Hilangnya Jeda Antar Dimensi

Banyak yang dulu bilang, kalau waktunya kerja ya kerja. Waktunya dirumah, ya jangan urusin kerjaan. Gimana dengan 2 bulan ini? Ambyaar. Bagi yang sudah terbiasa work-life integration, malah semakin menikmati cara kerja ini. Tapi bagi yang masih berfikir work-life balance, saatnya menyesuaikan.

Dulu, sebelum pandemik, ada jeda antara dimensi. Bagi seorang ayah untuk pindah dari dimensi kerjaan ke dimensi keluarga mungkin butuh 30 menit – 2 jam jarak tempuh kantor – rumah. Sekarang ? Ketika Anda melakukan zoom meeting dengan kolega, tanpa disadari Anda merasa sedang bekerja beneran secara profesional. Fokus. Serius. Namun beberapa detik setelah Anda “leave meeting” tiba-tiba Anda sudah berada ditengah – tengah keluarga Anda.

Refleksi

Mungkin beberapa kegiatan memang akan kembali seperti semula, tidak bisa terus menerus dilakukan dengan cara seperti 2 bulan ini. Tapi saya cukup yakin, dan dari riset beberapa firma seperti BCG dan MacKenzie, akan muncul “the new normal” untuk beberapa aktivitas.

Tapi, secara refleksi personal, berapa banyak dari kita yang ingin menjadi seseorang yang “baru” ketika semua ini selesai ? Menjadi orang yang lebih efisien, lebih produktif, menggunakan cara-cara baru yang terbukti lebih baik? Atau kebanyakan dari kita hanya ingin kembali melakukan hal – hal yang sebelum pandemik bisa kita lakukan ?

MFR

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×