Kesalahan umum dalam pembinaan UMKM

Pasar

 

 

 

 

 

Pada saat itu, saya diajak oleh sebuah perusahaan financing ternama di Indonesia untuk memberikan pelatihan pembukuan bagi pedagang pasar. Ada 5 pasar yang akan saya kunjungi yang tersebar di pinggiran kota bodetabek. Level pasar tersebut masih pasar tradisional yang belum direvitalisasi. Masih becek, bau, dan sangat tradisional.

Sasaran program ini sebenarnya adalah agar para pedagang bisa memiliki pencatatan yang tepat atas aktivitas usaha mereka. Sehingga perkembangan toko mereka bisa terukur dengan baik. Walaupun, tentu pasti ada motif bisnis yang dibawa oleh perusahaan tsb, agar ketika pedagang tersebut berkembang dan butuh pinjaman modal kerja akan meminjam ke perusahaan itu. But, nothing wrong with that. Selama semua saling menguntungkan.

Namun menurut saya, letak permasalahannya adalah pada ketidak-tepatan antara target market dengan cara yang digunakan. Saya diminta memberikan penjelasan tentang cara melakuan pembukuan usaha, cara menabung hasil usaha untuk investasi, dsb. Sedangkan, menurut saya, target market program ini adalah pelaku usaha “ultra mikro”.

Apa itu yang saya sebut sebagai pelaku usaha “ultra mikro” ? yaitu pelaku usaha yang masih memikirkan uang untuk hari ini saja. Tujuan berdagang masih hanya sebatas memenuhi kebutuhan hari ini. Bisa belanja buat masak dirumah, beli susu anak, selesai! Boro – boro untuk nabung untuk hari tua, merencanakan pengeluaran untuk bayar hutang supplier minggu depan saja mungkin masih jarang dilakukan.

Lalu apa salahnya? menurut saya, untuk target market seperti itu hal yang pertama harus dilakukan adalah “mendobrak mind-set” nya. Kita tidak bisa langsung masuk dalam paparan teknis. Karena mereka pasti menolak. Iming-iming bahwa hal ini akan baik buat mereka kedepannya tentu dengan mudah mereka tolak. Bagi mereka, yang mereka butuhkan hanya uang masuk buat hari ini.

Dengan pendekatan yang sangat personal, kita harusnya bisa “sharing” dengan mereka bahwa hidup tidak hanya untuk hari ini. Ada anak yang harus kita sekolahkan dikemudian hari. Ada hari tua yang harus kita jalani. Ada pengeluaran-pengeluaran masa depan yang harus kita rencanakan. Dan yang paling mudah adalah dengan menjadikan rekan sesama pedagang yang sudah berhasil untuk bercerita. Karena konsep kesama-rasaan antar sesama mereka pasti lebih bisa diterima.

Jadi, jauh lebih dalam lagi dari sekedar paparan teknis bagaimana melakukan pembukuan usaha. Mereka harus sudah paham dahulu kenapa pembukuan itu penting untuk dilakukan. Ceritakan bahayanya tidak punya pembukuan pada masalah sehari-hari yang mereka alami. Proses ini pasti sulit. Butuh kesabaran dan ketelatenan.

Tapi demi ekonomi Indonesia yang kuat yang ditopang mayoritas oleh sektor UMKM, trust me, it’s worth it.

 

*ditulis oleh Farid Rasyidi. CEO & Founder Rasyidi Group

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *