Pemberdayaan UMKM : Butuh lebih dari sekedar ilmu

Pada hari Kamis 12 Juni 2014 kemarin saya mendapatkan undangan dari Al-Azhar Peduli Ummat (APU) untuk menjadi pembicara dalam acara “Training Wirausaha – Sejuta Berdaya”. Program pemberdayaan yang sangat komprehensif ini memberikan pelatihan bagi para pelaku usaha yang baru saja keluar dari kemiskinan, dengan menjadi seorang enterpreneur.

 Program ini sendiri sangat dahsyat karena APU berperan dari segala sisi, dengan menggandeng mitra-mitra lainnya. Mulai dari pendanaan, pendampingan, akses market, dan hal lain yang dibutuhkan oleh si pelaku usaha. Sesuatu yang mungkin belum ada di Negeri ini.
Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Ada yang lebih menarik, menurut saya.
Di perusahaan yang saya dirikan, Rasyidi Consultant, saya biasa berbicara dan berdiskusi dengan pemilik bisnis. Mulai dari direksi sebuah perusahaan besar, pemilik restoran terkenal, dan pemilik usaha menengah kecil lainnya. Permasalahan di mereka pun biasanya serupa untuk level yang sama.
Perusahaan besar selalu bermasalah dengan laporan keuangan yang kurang akurat dan tidak tepat waktu. Perusahaan menengah selalu bermasalah dengan sistem pembukuan yang belum rapih dan belum punya laporan keuangan. Dan perusahaan kecil yang selalu bermasalah dengan sang owner yang masih mengerjakan semuanya sendiri. Tapi, dari pengalaman bicara dengan mereka semua, saya mendapati bahwa apa yang saya bicarakan bisa diterima mereka dengan baik. Baik itu paparan teknis pembukuan dan laporan keuangan, maupun issue besar mengenai sistem pembukuan dan kenapa itu penting sekali.
Tapi tidak demikian dengan acara yang saya hadiri kemarin itu. Karena undangan yang datang ke saya cukup mendadak, saya baru tahu latar belakang peserta acara itu ketika berada di lokasi. Mereka rata-rata adalah pemilik usaha warungan. Ya, warungan. Beberapa ada yang menjual makanan ringan, gado-gado, dan semacamnya. Namun rata-rata sama tipe nya. Mereka berasal dari golongan (mungkin) sangat miskin, tidak sekolah, sudah cukup tua (atau setengah tua). Tapi bagusnya, melalui program ini, mereka berusaha bangkit dan keluar dari kondisi itu.
Seketika saya bingung. “Apa yang harus saya sampaikan ke mereka?” Biasanya saya selalu bicara masalah “NERACA, LABA RUGI”, “HUTANG PIUTANG”, “OMZET, CASHFLOW, PROFIT” dan beberapa kata-kata teknis lainnya. Tapi yang saya yakini adalah, peserta ini tidak akan mungkin mengerti dengan itu semua. Entah bagus atau buruk, mereka tetap tidak mengerti dan mungkin tidak mau mengerti itu semua. Yang mereka inginkan hanya dagangan mereka laku. Itu saja.
Tapi justru ini tantangannya. Tau kah Anda bahwa yang menggerakan ekonomi Indonesia adalah mereka – mereka ini? Jumlah usaha seperti mereka adalah 55.876.176 unit dan mempekerjakan 99.859.517 tenaga kerja. Bayangkan, jumlah itu sama dengan 97% jumlah usaha di Indonesia dan mempekerjakan 90,12 % dari seluruh tenaga kerja di Indonesia.
Lalu dimana posisi perusahaan – perusahaan besar dengan tenaga kerja terdidik dan berpenampilan menarik yang berkantor di kawasan elit? Jumlah mereka hanya 4.968 unit usaha dengan mempekerjakan “hanya” 3.150.645 tenaga kerja. Jauh sekali perbandingannya (data sementara kemenkop ukm per tahun 2012).
Akhirnya saya menjelaskan mengenai “Pembukuan buku tulis” bagi mereka. Jauh dari standar akuntansi, karena memang mereka tidak butuh itu. Tapi bukan itu poinnya. Ini benar-benar tantangan bagi semua pihak yang ingin berkontribusi terhadap UMKM di Indonesia. Baik itu pihak perbankan sebagai pemberi pinjaman, pemerintah sebagai regulator, atau swasta dengan peran-peran lainnya.

Sangat membingungkan dan sangat menantang. Tapi pasti sangat penting buat bangsa ini.

M. Farid Rasyidi

CEO/Senior Advisor

Rasyidi C-Financial Consultant

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *